Selasa, 25 Januari 2011

Analisis Pasar

Yuganur Wijanarko dari HD Capital mengatakan, tekanan jual di pasar saham Indonesia masih akan berlanjut hingga awal pekan ini. Kekhawatiran inflasi (6,96% menurut BI) menyebabkan investor asing mengurangi portofolionya di emerging market, “Terutama karena inflasi akan melemahkan nilai tukar rupiah dan menggerus return on investment investor,” ujarnya
Namun, menguatnya rupiah dari 9.100 ke 9.060, saat IHSG terjun bebas hingga 140 poin, kemudian rebound dan ditutup koreksi 74 poin, menandakan bahwa capital outflow tidak terjadi karena banyak peralihan ke Surat Utang Negara (SUN). Apalagi, imbuh Yuga, setelah koreksi yang cukup dalam, valuasi harga saham unggulan menjadi murah, “Ini menunjukkan potensi technical rebound Senin ini,” katanya.
Senada dengan Nico Omer Jonckheere dari Valbury Asia Securities yang mengatakan, pekan ini IHSG akan bergerak mixed dan rawan aksi ambil untung investor, Hal ini sebagai strategi mengurangi kerugian terhadap portoflio.
Bermunculannya sentimen positif secara partial dari emiten, dinilai belum mampu menopang penguatan IHSG. “Inilah yang menyebabkan indeks terus dibayangi aksi ambil untung,” ujarnya.
Namun, tidak tertutup kemungkinan IHSG berbalik arah. Salah satunya karena secara teknikal sudah jenuh beli, sehingga membuka peluang technical rebound. Apalagi, bursa domestik bakal mendapat sedikit angin segar dari sentimen positif bursa global. Akhir pekan lalu, bursa AS ditutup menguat karena investor merespons laporan data kinerja perusahaan yang positif.
Adapun saham yang atraktif diperdagangkan dan diperkirakan Nico berpeluang naik pekan ini adalah yang sudah terkoreksi cukup dalam dan memiliki prospek industri bagus. Seperti saham infrastruktur dan perbankan serta komoditas.
Ia pun menyarankan investor fokus pada saham kapitalisasi besar atau perusahaan pilihan dengan pertumbuhan penjualan dan atau laba bersih, dividend yield tinggi maupun price earning (PE) relatif rendah. Selain arus kas yang sehat, operating profit margin (OPM) besar serta debt equity ratio (DER) rendah dan return on equity (ROE) tinggi.
Sementara pekan ini, saham-saham pilihan Yuga adalah PT Astra International (ASII). Hal ini karena valuasi yang sudah murah akibat tekanan harga saham. Sedangkan saham tambang yang disarankan adalah PT Adaro (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan PT Bumi Resources (BUMI). “Investor bisa beli saham ini,”ujarnya.
Untuk saham perbankan, jagoannya adalah PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Hal ini karena valuasinya yang murah. Namun, kekhawatiran peningkatan NPL (kredit bermasalah) yang mengganggu pendapatan perbankan, Yuga merekomendasikan trading buy.
Sepekan lalu IHSG terkoreksi 189.60 poin (5,31%) ke posisi 3.569,15 dari posisi pekan sebelumnya di level 3.379,54. Pelemahan tersebut dipicu pelbagi faktor, seperti sinyal kenaikan suku bunga BI rate, dan memburuknya kondisi iklim dan cuaca yang mendongkrak harga komoditas tambang dan perkebunan.
Bagaimanapun, Kepala Riset PT Universal Broker Satrio Utomo menekankan bahwa turunnya IHSG lebih dari 100 poin, merupakan saat yang paling baik untuk melakukan pembelian. “Ini adalah untuk posisi trading, bukan untuk posisi beli-simpan,“ tegasnya.
Ia menjelaskan, bahwa ketika terkoreksi di atas 100 poin, IHSG jarang sekali ditutup pada level terendah.Dari data semenjak 2006, koreksi di atas 100 poin pernah terjadi pada IHSG sebanyak 33 kali.
Dalam beberapa kejadian, ia melihat, hanya ada dua kesempatan dimana IHSG ditutup pada level terendah. “Ini berarti, probabilitas IHSG untuk rebound setelah mencapai titilk terendah hingga menjelang tutup adalah 93.94%,” paparnya.
Selain itu, imbuhnya, 1 dari 3 kejadian IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, indeks saham gabungan ini mengalami rebound sekitar 1-3%. Dengan saham beta 1.2, berarti ada kesempatan meraup keuntungan sebesar 1,2-3,6%. “Cukup lumayan bukan?” timpalnya.
(dikutip dari www.inilah.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar